MicroStrategy, perusahaan analisis bisnis publik, kembali menambah kepemilikan Bitcoin dengan membeli 6.911 BTC. Akuisisi ini meningkatkan total kepemilikan Bitcoin mereka menjadi lebih dari 500.000 BTC, menjadikan MicroStrategy salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh pendiri MicroStrategy, Michael Saylor, melalui platform media sosial X. Ia menyatakan bahwa perusahaan membeli 6.911 BTC seharga USD 584,1 juta (sekitar Rp 9,6 triliun) pekan lalu, dengan harga rata-rata sekitar USD 84.529 per BTC.
Dengan pembelian ini, MicroStrategy kini memiliki Bitcoin Yield sebesar 7,7% YTD (Year-to-Date). Hingga tanggal 23 Maret 2025, mereka memegang 506.137 BTC yang diperoleh dengan harga lebih dari USD 33,7 miliar (sekitar Rp 547,7 triliun). Ini mewakili lebih dari 2,3% dari total pasokan Bitcoin yang beredar.
Pembelian ini dilakukan meskipun pasar Bitcoin sedang mengalami penurunan dan ketidakpastian ekonomi global. MicroStrategy sebelumnya mengumumkan rencana untuk mengumpulkan dana tambahan sebesar USD 21 miliar melalui saham preferen kelas A untuk mendukung strategi investasi Bitcoin mereka. Keputusan ini menunjukkan keyakinan MicroStrategy yang kuat terhadap Bitcoin sebagai aset jangka panjang.
Kritik dan Pembelaan Terhadap Strategi Investasi Bitcoin MicroStrategy
Investasi besar MicroStrategy di Bitcoin telah menuai beragam reaksi. Joseph Weisenthal, seorang podcaster dan jurnalis bisnis, sempat mengkritik strategi ini, dengan menyatakan, “Bayangkan berinvestasi dalam Bitcoin selama bertahun-tahun, Anda hanya mendapatkan sekitar 30%?”
Namun, kritik tersebut dibantah oleh beberapa anggota komunitas Bitcoin. Mereka menekankan bahwa saham MicroStrategy sendiri telah meningkat hampir 2.200% sejak Michael Saylor mengadopsi strategi pembelian Bitcoin secara bertahap. Keuntungan ini jauh melampaui perolehan dari sekadar investasi Bitcoin saja.
Saylor sendiri telah membuktikan keuntungan signifikan dari investasi pribadinya di Bitcoin. Pada tahun 2020, ia mengungkapkan telah membeli hampir 18.000 BTC dengan harga USD 9.882 per BTC. Perbedaan harga saat ini menunjukkan keuntungan yang sangat besar dari investasi tersebut.
Pengaruh Faktor Eksternal Terhadap Kenaikan Harga Bitcoin
Kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini, mencapai USD 87.453 pada 20 Maret 2025, tidak hanya disebabkan oleh keputusan The Fed untuk menahan suku bunga AS. Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa minat institusional yang meningkat dan perkembangan politik juga berperan signifikan.
Fyqieh mencontohkan rencana Donald Trump untuk berbicara di Digital Asset Summit (DAS) di New York sebagai salah satu faktor pendorong. Selain itu, arus masuk dana yang signifikan ke ETF Bitcoin spot AS, mencapai USD 209 juta pada 19 Maret 2025, menunjukkan aktivitas investor besar kembali meningkat.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga memang sesuai dengan ekspektasi pasar dan mengurangi ketidakpastian ekonomi. Namun, kenaikan harga Bitcoin juga mencerminkan optimisme yang lebih luas terhadap aset digital dan pertumbuhan adopsi Bitcoin secara global.
Reaksi Positif Bitcoin terhadap Kebijakan The Fed
The Fed menegaskan bahwa suku bunga AS akan tetap di kisaran 4,25 persen hingga 4,5 persen. Meskipun inflasi masih menjadi perhatian utama, keputusan ini dianggap sebagai sinyal positif oleh pasar. Pengurangan kebijakan pengetatan kuantitatif (QT) oleh The Fed juga memberikan sentimen positif tambahan.
Bitcoin merespon secara positif, mencapai level tertinggi intraday di USD 87.453. Kenaikan ini selaras dengan peningkatan indeks saham utama seperti DOW dan S&P 500, menandakan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi yang lebih baik. Ini menunjukkan interkoneksi yang kompleks antara pasar tradisional dan pasar kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi.











